Papua Dibangun, Tapi Siapa yang Dikorbankan? Papua kerap disebut sebagai “Tanah Masa Depan Indonesia”. Tapi pertanyaannya, masa depan untuk siapa?Film dokumenter Pesta Babi garapan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale bersama WatchDoc, Greenpeace, Pusaka Bentala Rakyat, Jubi.id, dan LBH Papua Merauke merekam langsung situasi di lima distrik Papua Selatan selama empat tahun penelitian. Film ini tidak hanya menampilkan konflik agraria biasa, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pembangunan perlahan menghancurkan ruang hidup masyarakat adat. Pembangunan yang Menghancurkan Ruang Hidup Pesta Babi memperlihatkan bagaimana pemerintah dan perusahaan terus mendorong proyek-proyek besar atas nama pembangunan yang perlahan menghancurkan. Mereka membuka hutan, memetakan tanah adat, dan mengabaikan suara masyarakat. Negara datang membawa janji kesejahteraan, tetapi suara rakyat justru tenggelam di bawah kepentingan proyek dan investasi. “Percuma kami hidup di bawah naungan ‘Merah Putih’, ternyata ‘Merah Putih’ tidak melindungi kami,” tutur Vincen Kwipalo. Kalimat itu bukan sekadar keluhan. Ucapan tersebut menjadi bentuk kekecewaan masyarakat yang merasa negara hanya hadir saat tanah mereka dibutuhkan. Papua dan Warisan Proyek Negara Pemerintah terus membawa Proyek Strategis Nasional (PSN) ke Papua, mulai dari pembangunan jalan, perkebunan, tambang, hingga food estate. Mereka membungkus semua proyek itu dengan nama “kemajuan”. Namun lewat film ini, kemajuan justru meninggalkan luka baru bagi masyarakat yang hidup paling dekat dengan alam. Selama puluhan tahun, negara terus mengambil tanah Papua atas nama pembangunan. Nama proyek memang berubah dari masa ke masa, tetapi pola perampasannya tetap sama: negara membuka jalan untuk investasi tanpa benar-benar mendengarkan masyarakat adat yang lebih dulu hidup di sana. Ketika Hutan Bukan Lagi Rumah Kerusakan ruang hidup menjadi dampak paling nyata dari proyek-proyek tersebut. Selama puluhan tahun, masyarakat adat menggantungkan hidup pada hutan sebagai sumber makanan, obat-obatan, dan identitas budaya. Ketika perusahaan menebang hutan, masyarakat tidak hanya kehilangan pohon, tetapi juga kehilangan cara hidup, hubungan dengan leluhur, dan rasa aman. Pembangunan memaksa masyarakat Papua mengikuti sistem yang bahkan tidak mereka inginkan. Mereka kehilangan tanah, lalu harus berjuang bertahan hidup di atas ruang yang dulu mereka jaga sebagai rumah sendiri. Papua dan Masa Depan Kekuasaan Papua tidak hancur dalam satu malam. Kebijakan negara melemahkan masyarakat sedikit demi sedikit melalui proyek yang lebih sering memprioritaskan keuntungan dibanding keselamatan rakyatnya sendiri. Pada akhirnya, Pesta Babi bukan hanya film dokumenter tentang Papua. Film ini menjadi cermin bagaimana negara begitu mudah memakai istilah “kepentingan bersama” tanpa benar-benar melibatkan masyarakat yang paling terdampak. https://www.youtube.com/watch?v=MpdrWgDRVf8 Post Views: 76 Navigasi pos Rape Culture yang Masih Mengakar di Media Sosial