
Source : Instagram DNK TV
Menakar Standar Maskulinitas Lewat Tokoh “Arga” dalam Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”
Beban Realita Sukses Gen Z
Di tengah tuntutan buat “cepat sukses”, yang semakin kuat di kalangan generasi muda, film Tunggu Aku Sukses Nanti karya Naya Anindita nunjukin realita yang jauh lebih kompleks. Nggak cuma soal mimpi, tetapi juga tekanan ekonomi, ekspektasi sosial, dan tanggung jawab yang datang bersamaan sejak awal.
Lewat tokoh Arga, terlihat jelas bahwa punya pekerjaan bukan berarti tekanan selesai gitu aja. Justru muncul tuntutan untuk langsung mapan, memenuhi kebutuhan keluarga, sampai menyamai standar orang lain. Sayangnya, hal ini kerap mencerminkan realita banyak anak muda saat ini, terutama laki-laki.
Tapi DNK People, pernah nggak sih kepikiran, tuntutan ini sebenarnya datang dari mana ya?
Konstruksi Maskunilitas Sejak Kecil
“Anak laki-laki nggak boleh cengeng.” Kalimat yang diucapkan tante Yuli kepada Arga yang masih kecil ini bukan sekadar dialog, tapi nunjukin cara lama yang ngebentuk konstruksi maskulinitas sejak kecil. Laki-laki diajarkan untuk menahan emosi, selalu kuat, nggak boleh terlihat lemah dalam situasi apapun.
Dalam banyak kasus, pola ini dikenal sebagai toxic masculinity, konsep yang ngegambarin standar sosial yang menuntut laki-laki untuk terus kuat, bahkan saat mereka lagi nggak baik-baik saja. Seiring waktu, nilai ini membentuk cara pandang Arga hingga terbiasa memendam emosi dan berusaha memenuhi ekspektasi orang lain.
Jeratan Validasi dan Obsesi Cepat Sukses
Saat besar, Arga dihadapkan pada tuntutan untuk membantu keluarga, mengikuti jejak karier sepupunya, dan memenuhi standar materi yang tinggi dari lingkungan keluarganya. Hal ini nunjukin realitas kalau “sukses” masih sering diukur dari pencapaian finansial, terutama bagi laki-laki.
Tanpa disadari, tuntutan ini berubah menjadi dorongan untuk membuktikan diri dan mencari validasi. Tekanan ini nggak hanya membentuk cara pandang Arga terhadap dirinya, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologisnya. Hmm, kira-kira sebesar apa ya dampak dari tuntutan ini bagi laki-laki?
Dampak Tragedi Toxic Masculinity
Hasil investigasi Tim Jurnalisme Data Kompas menemukan, lebih dari 1,4 juta laki-laki di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental karena tekanan sosial di sekitarnya. Fenomena “Lelaki nggak Bercerita” juga makin nguatin narasi maskulinitas yang menuntut laki-laki untuk selalu kuat dan nggak ekspresif secara emosional.
Padahal, data World Health Organization (WHO) mencatat lebih dari 700 ribu orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya, dengan angka laki-laki tiga kali lebih tinggi. Berarti ini bukan cuma soal laki-laki yang lebih rentan, tapi karena mereka tumbuh dalam konstruksi maskulinitas dan budaya patriarkal yang mengakar, yang bikin mereka terbiasa memendam, bukan mencari bantuan.
Terus… gimana kalau realitanya nggak sesuai ekspektasi?
Di balik tuntutan untuk jadi laki-laki yang mapan dan stabil secara finansial, realitas di lapangan juga ternyata nggak sesederhana itu.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat:
- Jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,46 juta orang (2025)
- Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) masih berada di angka 4,85% pada Agustus 2025, meskipun sempat turun tipis menjadi 4,74% pada November 2025.
Artinya, jutaan orang masih berebut kesempatan di pasar kerja yang sempit. Masalahnya, di saat yang sama, laki-laki muda tetap dituntut untuk cepat mapan dan memenuhi ekspektasi sosial. Kontradiktifnya, tuntutannya tinggi, tapi aksesnya sendiri masih terbatas.
Maskulinitas Jadi Motivasi atau Tekanan Mental?
Pada akhirnya, kita harus jujur bahwa standar maskulinitas yang menuntut laki-laki untuk “selalu kuat” dan “cepat mapan” sering kali justru bertabrakan dengan tembok realitas ekonomi. Saat angka pengangguran masih menyentuh jutaan dan lapangan kerja formal makin sulit, memaksa diri untuk memenuhi definisi ideal hanya akan melahirkan kelelahan mental.
Nah, gimana nih menurut DNK People, apakah toxic mascunility jadi hal yang benar untuk diterapkan agar para laki-laki lebih memahami rasa tanggung jawab yang tinggi atau justru merusak mentalitas para pemuda?